Sebuah puisi untuk diri sendiri. Boleh jadi, saat menulis (dan membaca) puisi ini, saya (dan kita) sedang mengkorupsi waktu, tenaga dan harta orang lain.
DEPKEU dikorupsi, anggaran raib
DEPAG dikorupsi, dana haji ghaib
BI dikorupsi, rupiah hilang
DEPHUB dikorupsi, ribuan nyawa melayang
DEPHAN dikorupsi, senjata usang
DEPKES dikorupsi, pasien kejang-kejang
DEPNAKER dikorupsi, TKI sengsara
DEPTAN dikorupsi, hutan binasa
DEPLU dikorupsi, diplomasi memble
DPR dikorupsi, rakyat kecele
DEPERIN dikorupsi, industri hancur
DEPDAG dikorupsi, pengusaha babak-belur
Mulai sekarang, marilah kita korupsi
Korupsi hati mereka dengan pesan yang jelas
Gelapkan hati mereka lalu nyalakan cahaya kebenaran
Karena Anda adalah manusia, janganlah berlaku binasa
Koruptor juga manusia, hentikan perbuatan kotor
Generasi muda juga manusia, hiduplah dengan penuh jasa
Aparat juga manusia, mengapa berlaku seperti keparat
Presiden, wakil rakyat, hakim, jaksa dan polisi juga manusia
Selamatkan kami dengan hati nurani
Palmerah, 27 Juni 2008